Nikmat merangkap ujian

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (QS. 76:2-3)

Yaap, perintah dan larangan diberikan oleh Allah SWT kepada kita sebagai ujian bagi kualitas keimanan kita. Namun, bersama datangnya perintah dan larangan tersebut, Allah juga memfasiltasi manusia dengan nikmat penglihatan dan pendengaran agar kita bisa menghadapi ujian hidup di dunia ini dengan baik.

Maha suci Allah, yang telah memberikan banyak nikmat kepada kita. Pada ayat tersebut juga digambarkan bahwa kita juga diberi nikmat kebebasan untuk menentukan hidup kita. Sesungguhnya Allah telah menunjukkan jalan yang lurus bagaimana kita harus menggunakan nikmat-nikmat tersebut, yaitu bersyukur. Akan tetapi, ada juga manusia yang justru menggunakan nikmat tersebut untuk bermaksiat dan mendurhakai-Nya.

Padahal, harus kita ingat bahwa bersama datangnya nikmat tersebut, datang juga tanggung jawab yang harus kita penuhi. Ada resiko yang harus kita tanggung. Allah akan meminta pertanggung jawaban tentang semua nikamt yang telah Ia berikan, kita gunakan untuk apa saja dalam hidup ini. Allah telah menunjukkan bahwa apabila kita memilih untuk menggunakan nikmat tersebut untuk bersyukur dan beriman, hidup kita akan bahagia lahir batin di dunia dan di akhirat kelak. Begitu juga sebaliknya, kekufuran kepada-Nya akan berdampak buruk bagi hidup kita.

Memang benar kita bebas memilih jalan yang mau kita tempuh dalam hidup ini, tetapi kita tidak bebas memilih akibat yang muncul dari pilihan kita tersebut.

Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 41:20)

Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS. 24:24)

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. (QS. 17:36)

Wassalamu’alaikum,

Melbourne, 15 April 2012, 6.53 AM

This entry was posted in Sedekah and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Nikmat merangkap ujian

  1. sholeh says:

    Subhanallah, alhamdulillah wa syukururillah.. Ampuni kami semua n masukanlah kami ke dalam rahmatmu Ya Allah.. Amiin.YRA..

  2. kita bebas memilih jalan yang mau kita tempuh dalam hidup ini, tetapi kita tidak bebas memilih akibat yang muncul dari pilihan kita tersebut., Love this quote mas!!

  3. “kita bebas memilih jalan yang mau kita tempuh dalam hidup ini, tetapi kita tidak bebas memilih akibat yang muncul dari pilihan kita tersebut” Love this saying you made mas.
    I agree that no matter what we choose in life, there is no control over what comes afterwards, that will always be in Allah SWT’s hands. I figure that what I’m going through right now, and both the opportunity to study abroad that we are enjoying right now has its ups and downs. Just like every struggle in making deadlines and studying a lot harder.

  4. sholeh says:

    Sering Memikirkan Kematian Malah Bisa Bikin Panjang Umur
    AN Uyung Pramudiarja : detikHealth
    detikcom – Jakarta, Sering-sering berpikir tentang kematian tidak selalu berarti sedang depresi. Kecenderungan ini juga bisa menandakan bahwa seseorang punya peluang untuk berumur panjang, seperti yang terungkap dalam beberapa penelitian selama ini.

    Salah satu penelitian yang mengungkap hal itu pernah dipublikasikan dalam jurnal Personality and Social Psychology Review.

    Menurut penelitian ini, seseorang cenderung lebih panjang umur dan terjaga kesehatannya jika sering merenung atau memikirkan kematian.

    Alasannya cukup sederhana, yakni saat merenungkan kematian maka secara tidak sadar otak akan semakin menghargai hidup.

    Akibatnya otak secara otomatis akan tergerak untuk menyusun rencana-rencana tertentu yang bertujuan untuk menghindari datangnya kematian.

    “Proses ini bisa memotivasi kita untuk lebih rajin olahraga, mengurangi makanan tidak sehat, menggunakan tabir surya saat berjemur, memakai sabuk pengaman saat berkendara dan menyetir dengan lebih hati-hati,” kata Prof Kenneth Vail dari University of Missoury yang melakukan penleitian itu seperti dikutip dari MensHealth.com, Kamis (3/5/2012).

    Tidak hanya membuat gaya hidup seseorang menjadi lebih sehat, sering-sering memikirkan tentang kematian juga membuat orang cenderung lebih banyak melakukan hal-hal positif. Bukan hanya bermanfaat bagi kesehatan mentalnya sendiri, perilaku ini juga menguntungkan orang lain.

    Hal ini terbukti pada orang-orang yang tinggal di dekat pemakaman. Makin dekat dengan pemakaman, makin sering pula orang-orang tersebut memikirkan kematian meski tanpa disengaja, misalnya saat tiba-tiba memandangi deretan nisan di samping rumahnya.

    Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Personality and Social Psychology Bulletin tahun 2008 membuktikan teori tersebut.

    Orang-orang yang setiap hari berjalan kaki melewati pemakaman biasanya lebih murah hati serta suka menolong dibandingkan yang tinggal jauh dari pemakaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s