Introspeksi

Sebagai umat islam kita mempercayai adanya kehidupan akhirat setelah kehidupan dunia ini. Dunia ini adalah sarana kita untuk mempersiapkan kualitas kehidupan akhirat sebaik-baiknya. Ibaratnya dunia ini seperti ladang, sedang akhirat itu tempat memetik apa yang sudah kita tanam selama di dunia ini. Oleh karena itu, Allah SWT memerintahkan kita di dalam Al-Qur’an untuk memperhatikan apa yang sudah kita persiapkan untuk kehidupan akhirat nanti.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

QS.Al-Hasyr (59): 18

Sebagaimana kita ketahui, introspeksi berarti mencoba melihat apa yang sudah kita lakukan di masa lalu dan memperhatikan apakah lebih banyak keburukan atau kebaikan yang telah kita lakukan. Dalam istilah lain ialah muhasabah. Sebagai manusia kita pasti pernah berbuat dosa. Nah, bagaimana caranya memohon ampun dan bertaubat kepada Allah atas dosa yang telah kita perbuat, agar semua dosa tersebut bisa benar-benar diampuni?

Yang paling pertama yang harus dilakukan ialah menyadari bahwa kita telah berbuat dosa, mencari tau apa kesalahan yang telah kita perbuat. Bagaimana kita bisa memohon ampun kalau kesalahannya saja kita tidak tahu. Setelah menyadari kesalahan kita dan menyesalinya, kita harus segera memohon ampun dan bertaubat kepadaNya.

Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi keni’matan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.

QS. Hud (11): 3

Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

QS. An-Nisa (4): 17

Pada ayat di atas disebutkan bahwa kita hendaknya memohon ampun dan bertaubat kepada Allah. Timbul pertanyaan, apa bedanya mohon ampun dan taubat? Bukankah sama saja? Walaupun terkesan bermakna sama, mohon ampun tidaklah sama dengan taubat. Mohon ampun berarti kita telah menyadari kesalahan kita, menyesalinya, dan memohon agar Allah mengampuni dosa-dosa kita tersebut. Adapun taubat merupakan ’action’ atau perwujudan mohon ampun kita yaitu dengan cara berkomitmen untuk tidak mengulangi kesalahan yang telah kita perbuat. Taubat juga harus dilakukan sesegera mungkin setelah kita menyadari kesalahan kita

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

QS. At-Tahrim (66): 8

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

QS. Ali-Imran (3): 135

Rangkaian taubat tidaklah berhenti sampai di sini, ketika kita telah menyadari kesalahan kita, mohon ampun kepada Allah, dan bertaubat dengan sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Namun, bukti kesungguhan kita juga harus diwujudkan dalam bentuk tekad yang kuat untuk terus memperbaiki diri.

Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

QS. Al-Baqarah (2): 160

Bagaimana caranya agar kita bisa benar-benar memperbaiki diri? Sudah pasti kita harus kembali kepada petunjuk hidup kita, Al-Qur’an. Yang perlu disadari di sini ialah bahwa Allah yang menciptakan kita, Dia pasti mengetahui apa yang terbaik buat kita. Ketika kita belajar Al-Qur’an, kita akan melihat begitu banyak perintah dan larangan yang harus kita kerjakan dan kita tinggalkan, respectively. Kalau kita tidak menyadari bahwa semua aturan-aturan tersebut sebenarnya adalah untuk kebaikan diri kita dan juga kedamaian jiwa kita, pastilah kita akan menganggapnya sebagai beban. Sepertinya tidak perlu dijelaskan lagi bahwa seperti yang sudah sering kita lihat,  kesenangan yang diperoleh dari perbuatan dosa adalah semu dan tidak akan bertahan lama. Dampak buruknya terkadang sudah bisa kita rasakan di dunia ini.

Jadi, marilah kembali kita renungkan apakah kita telah berusaha semaksimal mungkin untuk mempersiapkan kehidupan akhirat kita. Belajar Al-Qur’an sangatlah penting agar kita tahu mana perintah dan mana larangan Allah. Jika kita tidak belajar Al-Qur’an, bagaimana kita bisa tahu bahwa ternyata yang telah kita perbuat selama ini ialah dosa. Kalau kita tidak menyadari yang kita lakukan adalah dosa, bagaimana mungkin kita akan menyesal dan memohon ampun. Begitu kita menerima akibat buruk dari perbuatan kita tersebut, barulah kita menyadari bahwa ternyata yang kita lakukan selama ini salah. Apakah kita harus menunggu sampai merasakan akibat buruk dari perbuatan kita? Sedangkan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang selalu mengingatkan kita agar jangan sampai kita menuai hasil dari perbuatan buruk kita.

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.

QS. Al-Kahfi (18): 103-105

Ayo kita bersegera mempelajari ayat-ayat Allah dalam hidup ini. Kita introspeksi kembali apakah kita sudah menjalani hidup ini dengan sebaik mungkin. Jika ternyata hidup kita masih jauh dari tuntunan Allah SWT, janganlah berputus asa. Dialah Sang Maha Pengampun yang rahmatnya tercurah bagi siapa saja yang bertaubat dan kembali kepada-Nya.

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah“. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Rabbmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).

QS. Az-Zumar (39): 54

This entry was posted in Santapan Ruhani and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s