Nikmat merangkap ujian

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (QS. 76:2-3)

Yaap, perintah dan larangan diberikan oleh Allah SWT kepada kita sebagai ujian bagi kualitas keimanan kita. Namun, bersama datangnya perintah dan larangan tersebut, Allah juga memfasiltasi manusia dengan nikmat penglihatan dan pendengaran agar kita bisa menghadapi ujian hidup di dunia ini dengan baik.

Maha suci Allah, yang telah memberikan banyak nikmat kepada kita. Pada ayat tersebut juga digambarkan bahwa kita juga diberi nikmat kebebasan untuk menentukan hidup kita. Sesungguhnya Allah telah menunjukkan jalan yang lurus bagaimana kita harus menggunakan nikmat-nikmat tersebut, yaitu bersyukur. Akan tetapi, ada juga manusia yang justru menggunakan nikmat tersebut untuk bermaksiat dan mendurhakai-Nya.

Padahal, harus kita ingat bahwa bersama datangnya nikmat tersebut, datang juga tanggung jawab yang harus kita penuhi. Ada resiko yang harus kita tanggung. Allah akan meminta pertanggung jawaban tentang semua nikamt yang telah Ia berikan, kita gunakan untuk apa saja dalam hidup ini. Allah telah menunjukkan bahwa apabila kita memilih untuk menggunakan nikmat tersebut untuk bersyukur dan beriman, hidup kita akan bahagia lahir batin di dunia dan di akhirat kelak. Begitu juga sebaliknya, kekufuran kepada-Nya akan berdampak buruk bagi hidup kita.

Memang benar kita bebas memilih jalan yang mau kita tempuh dalam hidup ini, tetapi kita tidak bebas memilih akibat yang muncul dari pilihan kita tersebut.

Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 41:20)

Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS. 24:24)

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. (QS. 17:36)

Wassalamu’alaikum,

Melbourne, 15 April 2012, 6.53 AM

Posted in Sedekah | Tagged , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

Dzikir atau kafir

Ya, kita mungkin sudah dering mendengar dua kata ini dan pasti sudah tahu benar apa arti dari kata-kata tersebut. Namun, marilah kita renungi bahwa kondisi hidup kita ini sebenernya hanya terdiri dari dua keadaan tersebut. Sedang dalam keadaan dzikir atau sedang dalam keadaan kafir.

“Lho, bagaimana mungkin kita busa kafir? Kan kita tidak keluar dari islam..”, tanya seorang teman. Yaa, betul memang mungkin kita tidak melepas identitas islam kita, tetapi sesungguhnya kita sedang kafir. Lho, kok bisa begitu??

Sebelum melanjutkan pembahasan ini lebih jauh, marilah kita samakan persepsi kita dahulu mengenai arti dua kata tersebut. Dzikir, sebagaimana kita ketahui, berasal dari bahasa arab yang artinya “ingat”. Berarti kalau kita dalam kondisi dzikir, artinya kita sedang ingat. Ingat apa? tentu dalam hal ini adalah ingat kepada Allah. Seperti yang sudah kita bahas di dalam artikel “buat apa sih sholat?”, ingat Allah berarti ingat kebesarannya, ingat perintah, dan ingat larangaannya. Jika dalam setiap langkah hidup kita sehari-hari kita selalu merasa ikhsan (selalu merasa diawasi oleh Allah), artinya kita sedang dalam kondisi dzikir. Ia berada dalam kesadaran penuh akan keberadaan Allah SWT. Ia selalu memikirkan tentang eksistensi Allah beserta segala kebesarannya. Di dalam al-qur’an, orang-orang seperti ini disebut sebagai “ulul albab”.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (Ulul Albab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. 3:190-191)

Bagaimana dengan kafir? dalam bahasa arab, kafir berarti “tertutup”, atau dalam bahasa inggris berarti “covered”. Seseorang dikatakan kafir apabila kesadarannya tertutup terhadap sesuatu yang semestinya disadari secara penuh, yakni keberadaan Allah SWT.  Pada umumnya kita hanya menggunakan kafir terhadap orang yang tidak memeluk agama islam saja. Sehingga cap kafir itu sering dianggap sebagai sesuatu yang rendah, menjijikkan, dan merendahkan. Memang benar, mereka sedang tertutup kesadarannya akan eksistensi dari Allah SWT. Namun, apakah kita yang islam juga tidak bisa menjadi kafir (baca: tertutup kesadarannya dari mengingat Allah)? Ketika kita lupa dari mengingat Allah, kita melalaikan perintah dan larangannya, atau kita sedang tidak merasa ikhsan, maka sebenarnya kesadaran kita sedang tertutup. Dalam kata lain, kita sedang berada dalam kondisi kafir.

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. 59:19)

Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi. (QS. 58:19)

Marilah kita memohon perlindungan kepada Allah SWT agar senantiasa berada dalam kondisi dzikir. Sehingga setiap langkah hidup kita senatiasa bersyukur dan mengabdi kepada-Nya.

Wallahu’alam..

Melbourne, 24 Maret 2012, 7.37 AM

Posted in Sedekah | Tagged , , , , , , , , , | 1 Comment

Mempersiapkan keluarga idaman

Kalau dirangkum, rata-rata kehidupan kita memiliki alur sebagai berikut: masih muda sekolah, kuliah, terus bekerja, kalau sudah mapan menikah, dan akhirnya memiliki keturunan. Namun sangat disayangkan bahwa banyak diantara kita yang menjalani hidup ini hanya sesuai alur tersebut tanpa memiliki tujuan yang jelas kenapa kita harus melakukan hal itu semua.

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan melainkan untuk beribadah kepada-Ku. (QS. 51:56)

Inilah sebenarnya tujuan dari penciptaan kita sebagai makhluk Allah SWT, untuk beribadah kepada-Nya. Apa maksudnya dengan beribadah? Apakah hanya menjalani ritual beragama saja? Oh, tentu tidak. Beribadah di sini maksudnya ialah menjalani aturan-aturan yang Allah berikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Yang akan dibahas dalam topik kali ini ialah tentang berkeluarga. Kebanyakan kita kurang mempersiapkan tujuan yang jelas dari berkeluarga (sekedar ikut-ikutan saja). Padahal hikmah dibalik berkeluarga itu sangat tinggi apabila dipersiapkan dengan matang.

Berkeluarga itu dimulai dengan datangnya cinta sebagai anugerah dari Allah SWT. Harus disadari bahwa bersama datangnya cinta, datang juga tanggung jawab. Kalau tanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, kita semua pasti sudah tahu. Namun, tanggung jawab terbesar di dalam keluarga ialah bagaimana kita dapat memelihara/membina keluarga kita agar tetap di jalan Allah.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. 66:6)

Inilah tugas terberat. Tetapi, apabila kita dapat menjalaninya, insya Allah kita dapat memiliki keluarga idaman. Keluarga yang benar-benar bahagia karena dapat berkumpul di dunia dan di akhirat kelak.

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada dalam surga dan keni’matan, mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka; dan Rabb mereka memelihara mereka dari azab neraka. Dikatakan kepada mereka: “Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan”. Mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami nikahkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli. Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami kumpulkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (QS. 52:17-21)

Yaa, Allah SWT berjanji bahwa apabila kita dapat membina keluarga sesuai dengan yang Ia perintahkan, maka kita dapat berkumpul terus dengan orang-orang yang kita cintai di dunia dan di akhirat kelak. Benar-benar keluarga idaman!

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. 25:74)

Wassalamu’alaikum,

Melbourne, 18 Februari 2012, 7.53 AM

Posted in Sedekah | Tagged , , , , , , | 1 Comment

Takdir: Sudah ditentukan atau bisa dirubah??

Takdir, kata yang sudah sering kita dengar setiap hari. Ada yang mengartikan sebagai nasib atau sesuatu yang sudah ditetapkan, ada juga yang mengartikan sebagai hasil jerih payah. Yang mana yang benar? Apakah takdir itu sudah ditetapkan atau bisa dirubah sesuai dengan jerih payah kita?

Coba kita renungkan beberapa ayat dalam al-qur’an yang berkaitan dengan takdir:

1.       Takdir merupakan ketetapan Allah SWT

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. 6:59)

Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan pengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuz). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah. (QS. 35:11)

Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh). (QS. 17:58)

Yap, dari beberapa ayat di atas, Allah SWT menerangkan bahwa segala sesuatu telah Ia tetapkan dan telah tertulis di dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz). Namun, sebelum membuat kesimpulan tentang takdir, mari kita perhatikan kembali ayat-ayat yang lain tentang takdir.

2.       Takdir merupakan hasil usaha kita

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah . Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan  yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. 13:11)

Untuk kemenangan seperti ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja. (QS. 37:61)

Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya. (QS. 8:51)

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo’a apabila ia berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. 2:186)

Ternyata di dalam Al-Qur’an Allah juga menerangkan bahwa kita juga turut andil di dalam proses terjadinya takdir. Jadi manakah yang benar? Apakah takdir itu sudah ditetapkan ataukah dapat berubah sesuai dengan usaha kita masing?

Memang ayat-ayat di atas terkesan kontradiktif. Tetapi, marilah kita coba untuk memperhatikan dan merenungkan ayat-ayat tersebut dengan lebih seksama. Mengapa Allah menyebutkan segala sesuatu telah tertulis di Lauh Mahfuzh, namun di ayat yang lain Allah menyebutkan bahwa Ia tidak akan merubah nasib seseorang sebelum orang tersebut merubah nasibnya sendiri? Bagaimanakah proses terjadinya takdir? Apakah Lauh mahfuzh itu?

Yaa, semakin lama semakin banyak pertanyaan yang muncul mengenai takdir ini. Bagi yang meyakini bahwa segala sesuatu telah ditetapkan oleh Allah, mereka hanya pasrah saja dan tidak berusaha sekuat tenaga untuk merubah nasibnya. Apabila nasibnya buruk, mereka hanya berkata sambil mengeluh bahwa ini sudah ketetapan Allah. Apakah benar begitu menyikapi hidup?

Bagi yang meyakini bahwa takdir itu adalah hasil usaha kita sendiri, mereka akan berusaha sekuat tenaga. Namun, ketika hasilnya tidak sesuai dengan yang mereka harapkan, mereka putus asa. Lalu, bagaimanakah kita seharusnya memaknai takdir?

3.       Allah tidak terikat oleh waktu

Perlu kita ketahui bahwa Allah menciptakan waktu di kehidupan ini hanyalah berlaku bagi makhluknya.  Allah sendiri tidak terikat oleh waktu. Bagi-Nya, masa lalu, sekarang, dan masa depan adalah sama saja. Ini yang disebut bahwa Allah Maha Mengetahui.

Lauh Mahfuz itu berisi seluruh sunntullah/hukum alam yang telah ditetapkan Allah ketika menciptakan alam semesta. Kitab ini berisi seluruh mekanisme hukum sebab akibat yang terurai dalam perjalanan waktu. Karena kita adalah makhluk Allah dan kita terikat oleh waktu, sunatullah tersebut berlaku dalam kehidupan kita. Ini yang disebut Allah telah menetapkan segala sesuatu, tetapi usaha kita juga menentukan takdir kita.

Yaa, Allah menciptakan takdir bukan pada hasilnya, tetapi pada prosesnya. Kalau kita memilih jalan A maka kita akan sampai di titik A, dan itu telah tertulis di Lauh Mahfuzh. Kalau kita memilih jalan B maka kita akan sampai di titik B, dan itu juga telah tertulis di Lauh Mahfuzh. Sebagai manusia kita diberikan sebagian sifat Maha Berkehendak-Nya, sehingga kita memiliki kebebasan untuk memilih jalan mana yang akan kita tempuh dalam hidup ini.

Namun, apakah takdir yang merupakan hasil dari hukum sebab akibat tersebut hanyalah hasil dari jerih payah kita sendiri? Kalau kita amati dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya takdir dalam kehidupan kita ini. Kalau dirangkum, kira-kira ada empat golongan faktor yang mendukung terjadinya suatu takdir.

  • Faktor dalam diri kita
  • Faktor orang lain
  • Faktor alam dan lingkungan sekitar
  • Kehendak Allah

Sebagai contoh, si A ingin bertemu dengan si B. Niat dari si A itu merupakan satu faktor terjadinya takdir. Karena kalau dia tidak ingin mengunjungi si B, bagaimana mungkin dia sampai ke rumah si B. Namun, niat dari diri kita sendiri pun belum cukup. Kalau ternyata si B tidak ada di rumah, takdirnya untuk bertemu si B pun tidak akan terjadi. Atau, si B sedang di rumah dan si A sudah bersiap-siap untuk berangkat menemui si B, namun tiba-tiba terjadi badai besar sehingga si A tidak dapat berpergian pada hari itu, takdirnya bertemu si B pun tidak terjadi.

Semua faktor-faktor yang mendukung terjadinya takdir itu dibawah kehendak Allah. Oleh sebab itu kita diharuskan berusaha, berdoa, dan bertawakkal ketika kita menginginkan sesuatu. Agar Allah SWT menunjukkan yang terbaik bagi kita.

4.       Bagaikan kalkulator

Analogi yang mudah untuk memahami takdir ialah dengan memperhatikan cara kerja kalkulator. Coba kita perhatikan, ketika kita menekan 5 + 5 maka pada monitor kalkulator akan muncul angka 10. Apakah angka 10 itu baru ada ketika kita menekan 5 + 5, ataukah angka 10 itu sudah diprogram sebelumnya oleh si pencipta kalkulator bahwa apabila ada yang menekan 5 + 5 maka sistem kalkulator tersebut akan mengeluarkan angka 10? Tentulah si pencipta kalkulator itu telah memprogram semuanya bahwa apabila kita menekan 7 + 3, hasilnya pun 10 juga. Kalau kita menekan 3 + 5 maka yang keluar bukanlah angka 10 melainkan angka 8.

Begitu juga takdir, Allah telah menciptakan semua mekanisme sebab akibat yang terurai dalam perjalan waktu. Faktor-faktor yang menyebabkan suatu takdir itu jumlahnya tak terhingga sehingga kemungkinan hasilnya juga tak berhingga. Namun, seluruh peristiwa takdir itu tetaplah terikat hukum sebab akibat yang telah diciptakan Allah sebelumnya dan tertulis di dalam Lauh Mahfuz.

Salah satu faktor terjadinya takdir itu adalah usaha kita. Jadi, apabila semua faktor sudah mendukung tetapi tidak ada kemauan dari diri kita untuk mencapai takdir tersebut, takdir itu tidak akan terjadi. Sebaliknya juga, apabila kita sudah berusaha sekuat tenaga, namun ada faktor eksternal yang tidak mendukung, maka takdir itu juga tidak akan terjadi. Untuk hal yang seperti ini kita diharuskan bertawakal kepada Allah SWT karena sebenarnya kehidupan di dunia ini hanyalah ujian untuk menilai bagaimana sikap kita terhadap ketetapan Allah. Sikap kita dalam menerima takdir yang diberikan Allah juga merupakan faktor yang menentukan takdir kita di akhirat kelak.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 2:155-157)

Saya telah berusaha menyajikan materi tentang takdir ini sesederhana mungkin. Apabila ada yang kurang jelas, dapat bertanya langsung kepada penulis. Semoga bermanfaat dan dapat meningkatkan iman kita akan kebesaran-Nya.

Wassalamu’alaikum..

Melbourne, 5 Februari 2011, 11.15 AM

Posted in Santapan Ruhani | Tagged , , , , , , , , , | 2 Comments

Disiplin atau menyesal

Lebih baik pilih yang mana?

1. Penderitaan dalam kedisiplinan

2. Penderitaan dalam penyesalan

Walaupun sama-sama penderitaan, tapi keduanya sangat jauh berbeda. Menderita dalam kedisiplinan itu sangat indah karena penuh dengan harapan akan keberhasilan. Yang lebih penting lagi, penderitaan dalam kedisiplinan itu sifatnya hanya sementara karena sebentar lagi orang yang setia dalam kedisiplinan akan segera menuai hasilnya.

Menderita karena penyesalan sangatlah mengerikan. Karena kita baru sadar ketika semua kesempatan telah berlalu. Dan yang perlu diingat, penderitaan di dalam penyesalan bisa saja berlangsung selamanya.

Kenapa penderitaan dalam penyesalan bisa terjadi?

Satu kata yang paling pas yaitu “Penundaan”. Ya, kebiasaan menunda-nunda memang terasa nikmat. Tapi hanya sesaat. Yang selanjutnya akan mengantarkan kita ke dalam penderitaan dalam penyesalan karena menyia-nyiakan kesempatan yang ada.

So kalau begitu, mengapa kita masih memanjakan diri kita untuk bermalas-malasan dan menunda pekerjaan yang walaupun melelahkan tapi akan membaikkan hidup kita. Mengapa kita tidak segera berlaku tegas pada diri kita untuk memutuskan hidup menderita dalam kedisiplinan dengan penuh harapan bahwa kita akan menuai hasil dari jerih payah kita. Oh sungguh indahnya. Dengan penuh harapan bahwa pada orang yang bersungguh-sungguh Tuhan akan membukakan jalan kebaikan baginya, apakah kita masih akan merasa menderita dengan berlaku tegas dan disiplin pada diri kita sendiri?

Pilihan ada di tangan anda. Silahkan memilih. Karena Tuhan memberikan sedikit sifat Maha Berkehendak-Nya kepada manusia untuk memilih jalan hidupnya.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap“.

QS. Al-Insyirah (94): 5-8

Wassalam,

Melbourne, 24 Januari 2012, 10.21 AM

Posted in Sedekah | Tagged , , , | Leave a comment

Santai hanya bagi yang sibuk

Coba sama-sama kita amati, bahwa ternyata hanya orang-orang yang sibuklah yang benar-benar bisa merasakan santai. Mereka bekerja keras untuk mengupayakan masa santainya. Ketika semua tugas telah selesai, buah dari keberhasilannya membuat mereka bisa mengupayakan liburan yang indah.

Di sisi lain, ada orang yang malas dan hidupnya selalu bersantai. Asal tau aja, orang yang malas itu sebenernya nggak santai. Mereka memiliki beban tugas-tugas atau pekerjaan yang belum mereka selesaikan. Makanya, coba perhatikan, orang malas itu identik dengan ngantuk. Mana ada orang malas yang sregep/rajin :p Kenapa? Ya, karena dengan tidur itu mereka dapat lari sesaat untuk melupakan beban yang ada. Jadi sebenernya mereka tidak pernah benar-benar merasakan santai. Kalaupun santai, santainya itu semu.

Jadi nasihatnya, marilah kita menyibukkan diri kita untuk bersegera melakukan hal-hal yang baik bagi kehidupan kita. Insya Allah kita bakal merasakan rasa santai yang sebenar-benarnya. Oh, alangkah indahnya hidup ini.

Untuk kemenangan serupa ini, hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja.

QS. Ash-Shoffat (37): 61

Orang yang ikhlas menerima keharusan membangun kehidupan yang baik, hidupnya akan baik. (Mario Teguh)

Enjoy your life,,

Melbourne, 20 Januari 2012, 10.07 PM

Posted in Sedekah | Tagged , , , | 2 Comments

Ciri-ciri orang bertakwa

Sedari dulu kita selalu diajari bahwa takwa itu berarti menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan Allah. Namun sayangnya, kebanyakan kita hanya sekedar tahu arti dari bertakwa, tapi tidak bersungguh-sungguh untuk mencari tahu apa perintah Allah, apa larangan Allah, dan berusaha untuk mentaatinya.

Oleh karena itu, disini saya mencoba memberikan sedikit contoh konkret dari beberapa ayat dalam Al-Qur’an tentang ciri-ciri orang yang bertakwa. Apa sih yang harus kita lakukan dalam hidup ini agar termasuk dalam golongan orang-orang yang bertakwa? mari sama-sama kita renungkan ayat di bawah ini:

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengatahui.

QS. Ali-Imran (3): 133-135

Kalau dirangkum, berarti agar kita bisa termasuk dalam golongan orang-orang yang bertakwa kits harus:

1. Berbagi/berderma kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan

2. Menahan amarah

3. Memaafkan kesalahan orang

4. Berbuat kebajikan

5. Apabila melakukan kesalahan, segera ingat Allah, memohon ampun, dan berjanji tidak  mengulanginya lagi

Sebenarnya masih banyak ayat-ayat di Al-Qura’an yang menjelaskan ciri-ciri orang yang bertakwa. Namun, mari kita coba terapkan mulai dari yang sederhana seperti yang tertulis pada ayat di atas. Semoga Allah SWT senantiasa memudahkan langkah kita untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Wassalamu’alaikum,,

Melbourne, 18 Januari 2012, 9.35 PM

 

Posted in Sedekah | Tagged , | Leave a comment