Takdir: Sudah ditentukan atau bisa dirubah??

Takdir, kata yang sudah sering kita dengar setiap hari. Ada yang mengartikan sebagai nasib atau sesuatu yang sudah ditetapkan, ada juga yang mengartikan sebagai hasil jerih payah. Yang mana yang benar? Apakah takdir itu sudah ditetapkan atau bisa dirubah sesuai dengan jerih payah kita?

Coba kita renungkan beberapa ayat dalam al-qur’an yang berkaitan dengan takdir:

1.       Takdir merupakan ketetapan Allah SWT

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. 6:59)

Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan pengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuz). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah. (QS. 35:11)

Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh). (QS. 17:58)

Yap, dari beberapa ayat di atas, Allah SWT menerangkan bahwa segala sesuatu telah Ia tetapkan dan telah tertulis di dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz). Namun, sebelum membuat kesimpulan tentang takdir, mari kita perhatikan kembali ayat-ayat yang lain tentang takdir.

2.       Takdir merupakan hasil usaha kita

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah . Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan  yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. 13:11)

Untuk kemenangan seperti ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja. (QS. 37:61)

Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya. (QS. 8:51)

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo’a apabila ia berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. 2:186)

Ternyata di dalam Al-Qur’an Allah juga menerangkan bahwa kita juga turut andil di dalam proses terjadinya takdir. Jadi manakah yang benar? Apakah takdir itu sudah ditetapkan ataukah dapat berubah sesuai dengan usaha kita masing?

Memang ayat-ayat di atas terkesan kontradiktif. Tetapi, marilah kita coba untuk memperhatikan dan merenungkan ayat-ayat tersebut dengan lebih seksama. Mengapa Allah menyebutkan segala sesuatu telah tertulis di Lauh Mahfuzh, namun di ayat yang lain Allah menyebutkan bahwa Ia tidak akan merubah nasib seseorang sebelum orang tersebut merubah nasibnya sendiri? Bagaimanakah proses terjadinya takdir? Apakah Lauh mahfuzh itu?

Yaa, semakin lama semakin banyak pertanyaan yang muncul mengenai takdir ini. Bagi yang meyakini bahwa segala sesuatu telah ditetapkan oleh Allah, mereka hanya pasrah saja dan tidak berusaha sekuat tenaga untuk merubah nasibnya. Apabila nasibnya buruk, mereka hanya berkata sambil mengeluh bahwa ini sudah ketetapan Allah. Apakah benar begitu menyikapi hidup?

Bagi yang meyakini bahwa takdir itu adalah hasil usaha kita sendiri, mereka akan berusaha sekuat tenaga. Namun, ketika hasilnya tidak sesuai dengan yang mereka harapkan, mereka putus asa. Lalu, bagaimanakah kita seharusnya memaknai takdir?

3.       Allah tidak terikat oleh waktu

Perlu kita ketahui bahwa Allah menciptakan waktu di kehidupan ini hanyalah berlaku bagi makhluknya.  Allah sendiri tidak terikat oleh waktu. Bagi-Nya, masa lalu, sekarang, dan masa depan adalah sama saja. Ini yang disebut bahwa Allah Maha Mengetahui.

Lauh Mahfuz itu berisi seluruh sunntullah/hukum alam yang telah ditetapkan Allah ketika menciptakan alam semesta. Kitab ini berisi seluruh mekanisme hukum sebab akibat yang terurai dalam perjalanan waktu. Karena kita adalah makhluk Allah dan kita terikat oleh waktu, sunatullah tersebut berlaku dalam kehidupan kita. Ini yang disebut Allah telah menetapkan segala sesuatu, tetapi usaha kita juga menentukan takdir kita.

Yaa, Allah menciptakan takdir bukan pada hasilnya, tetapi pada prosesnya. Kalau kita memilih jalan A maka kita akan sampai di titik A, dan itu telah tertulis di Lauh Mahfuzh. Kalau kita memilih jalan B maka kita akan sampai di titik B, dan itu juga telah tertulis di Lauh Mahfuzh. Sebagai manusia kita diberikan sebagian sifat Maha Berkehendak-Nya, sehingga kita memiliki kebebasan untuk memilih jalan mana yang akan kita tempuh dalam hidup ini.

Namun, apakah takdir yang merupakan hasil dari hukum sebab akibat tersebut hanyalah hasil dari jerih payah kita sendiri? Kalau kita amati dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya takdir dalam kehidupan kita ini. Kalau dirangkum, kira-kira ada empat golongan faktor yang mendukung terjadinya suatu takdir.

  • Faktor dalam diri kita
  • Faktor orang lain
  • Faktor alam dan lingkungan sekitar
  • Kehendak Allah

Sebagai contoh, si A ingin bertemu dengan si B. Niat dari si A itu merupakan satu faktor terjadinya takdir. Karena kalau dia tidak ingin mengunjungi si B, bagaimana mungkin dia sampai ke rumah si B. Namun, niat dari diri kita sendiri pun belum cukup. Kalau ternyata si B tidak ada di rumah, takdirnya untuk bertemu si B pun tidak akan terjadi. Atau, si B sedang di rumah dan si A sudah bersiap-siap untuk berangkat menemui si B, namun tiba-tiba terjadi badai besar sehingga si A tidak dapat berpergian pada hari itu, takdirnya bertemu si B pun tidak terjadi.

Semua faktor-faktor yang mendukung terjadinya takdir itu dibawah kehendak Allah. Oleh sebab itu kita diharuskan berusaha, berdoa, dan bertawakkal ketika kita menginginkan sesuatu. Agar Allah SWT menunjukkan yang terbaik bagi kita.

4.       Bagaikan kalkulator

Analogi yang mudah untuk memahami takdir ialah dengan memperhatikan cara kerja kalkulator. Coba kita perhatikan, ketika kita menekan 5 + 5 maka pada monitor kalkulator akan muncul angka 10. Apakah angka 10 itu baru ada ketika kita menekan 5 + 5, ataukah angka 10 itu sudah diprogram sebelumnya oleh si pencipta kalkulator bahwa apabila ada yang menekan 5 + 5 maka sistem kalkulator tersebut akan mengeluarkan angka 10? Tentulah si pencipta kalkulator itu telah memprogram semuanya bahwa apabila kita menekan 7 + 3, hasilnya pun 10 juga. Kalau kita menekan 3 + 5 maka yang keluar bukanlah angka 10 melainkan angka 8.

Begitu juga takdir, Allah telah menciptakan semua mekanisme sebab akibat yang terurai dalam perjalan waktu. Faktor-faktor yang menyebabkan suatu takdir itu jumlahnya tak terhingga sehingga kemungkinan hasilnya juga tak berhingga. Namun, seluruh peristiwa takdir itu tetaplah terikat hukum sebab akibat yang telah diciptakan Allah sebelumnya dan tertulis di dalam Lauh Mahfuz.

Salah satu faktor terjadinya takdir itu adalah usaha kita. Jadi, apabila semua faktor sudah mendukung tetapi tidak ada kemauan dari diri kita untuk mencapai takdir tersebut, takdir itu tidak akan terjadi. Sebaliknya juga, apabila kita sudah berusaha sekuat tenaga, namun ada faktor eksternal yang tidak mendukung, maka takdir itu juga tidak akan terjadi. Untuk hal yang seperti ini kita diharuskan bertawakal kepada Allah SWT karena sebenarnya kehidupan di dunia ini hanyalah ujian untuk menilai bagaimana sikap kita terhadap ketetapan Allah. Sikap kita dalam menerima takdir yang diberikan Allah juga merupakan faktor yang menentukan takdir kita di akhirat kelak.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 2:155-157)

Saya telah berusaha menyajikan materi tentang takdir ini sesederhana mungkin. Apabila ada yang kurang jelas, dapat bertanya langsung kepada penulis. Semoga bermanfaat dan dapat meningkatkan iman kita akan kebesaran-Nya.

Wassalamu’alaikum..

Melbourne, 5 Februari 2011, 11.15 AM

This entry was posted in Santapan Ruhani and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Takdir: Sudah ditentukan atau bisa dirubah??

  1. dig, ini sangat membantu sekali pemahaman gw tentang takdir, apalagi analogi tentang kalkulator. Well, good job..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s